Reuni 212: Monas Padat, Massa Berdatangan dari Luar Jakarta

Kawasan Monumen Nasional (Monas), tempat acara Reuni 212 digelar, ramai dipadati massa yang berdatangan sejak salat subuh, Minggu (2/12).

Para peserta menunaikan salat subuh berjamaah sekitar pukul 04.20 WIB dan selesai pukul 04.50 WIB, menurut pemantauan laman

Sejumlah tokoh yang hadir mencakup Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, Sekjen PKS Mustafa Kamal, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan juga Ketua Badan Pemenangan Nasional pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso.

Massa yang mengikuti acara ini berdatangan dari berbagai tempat, termasuk dari luar Jakarta.

Wartawan BBC News Indonesia, Rivan Dwiastono, melaporkan sejumlah peserta Reuni 212 memadati Stasiun Depok sejak pukul 05.00 WIB. Para pria memakai kopiah dan baju koko putih, sedangkan para perempuan mengenakan jilbab putih.

Mereka antre menumpang kereta api yang akan membawa mereka menuju kawasan Monas.

Di jalan utama Kota Depok, massa bersepeda motor membawa bendera merah putih dan bendera tauhid yang akhir-akhir ini menjadi topik kontroversial.

Dalam rangkaian acara yang diterima BBC News Indonesia, Reuni 212 akan diisi oleh berbagai ceramah dan sambutan, termasuk dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Juru Bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin, menyebut kelompoknya mengundang Prabowo dan seluruh politikus yang berhaluan sama dengan mereka.

Kehadiran itu disebutnya sebagai konsolidasi internal memenangkan Prabowo pada pilpres 2019.

“Kami mau Prabowo hadir untuk mendengar aspirasi kami, tapi kalau tidak datang, itu tetap bisa kami sampaikan melalui orang-orangnya,” kata Novel.

Kelompok 212 berada di balik upaya yang berhasil memenjarakan Basuki Tjahaya Purnama Ahok yang saat itu menjadi gubernur DKI Jakarta atas dakwaan penistaan agama.

Setelah Ahok dipenjara, sejumlah figur belakangan memutuskan keluar dari kelompok 212. Mereka antara lain Kapitra Ampera dan Usamah Hisyam.

Calon wakil presiden yang mendampingi Joko Widodo Ma`ruf Amin mengakui ikut menggagas gerakan kelompok 212.

Tiga orang ini menganggap gerakan 212 seharusnya bubar saat Ahok divonis bersalah dalam kasus penistaan agama.

Kapitra misalnya, menyebut kelompok 212 sejak awal tidak dibentuk untuk menjadi mesin politik, apalagi menyokong pencalonan Prabowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *