PSSI Membela Diri

Logo PSSI
VIVA – Kegagalan Timnas Indonesia senior di Piala AFF 2018 menjadi sorotan publik. PSSI dihujat karena dianggap tak becus dalam mengelola sepakbola nasional. Tagar #EdyOut, #BimaOut, dan sebagainya muncul di berbagai platform media sosial. Pun, akun instagram PSSI diserbu warganet yang kesal dengan prestasi stagnan Timnas. Berbagai situasi ini ditanggapi oleh Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria. Tisha menyatakan masyarakat harus bisa objektif dalam menilai kinerja PSSI. Dia malah mengungkit prestasi Timnas usia dini dan lainnya yang punya catatan bagus selama 2018. “Jangan sebar satu hal yang pesimis. Kalau masalah Timnas jeblok, sebenarnya Timnas itu ada tujuh kategori,” kata Tisha. “Timnas Putri, untuk kali pertama dalam sejarah lolos putaran pertama Olimpiade. Timnas U-16 juara AFF, Timnas Futsal Putri 8 besar Asia kali pertama, Timnas futsal putra peringkat 3 di AFF, Timnas U-19 untuk pertama kali masuk perempatfinal Piala Asia,” ujar Tisha. Soal Timnas U-16 yang masuk perempatfinal Piala Asia dan sepakbola pantai yang kembali bergairah, juga disinggung Tisha. Baginya, ada enam kategori Timnas yang punya prestasi. Boleh bangga, apalagi di sektor Timnas putri, futsal, atau sepakbola pantai. Semua harus diapresiasi, terlebih menggunakan lambang Garuda di dada. Tapi, tak usah terlalu membanggakan prestasi usia dini. Sebab, usia dini bukanlah mencari gelar. Namun, mencari perkembangan dan merupakan proses pembibitan. Indikator keberhasilan federasi adalah ketika Timnas di level senior sudah menunjukkan taringnya. Sebab, dari Timnas seniorlah, sebuah federasi bisa mendapatkan peringkat bagus di FIFA dan termasuk dalam jajaran negara elite dalam sepakbola. Pelatih Fakhri Husaini sempat berpesan, keberhasilan pembinaan usia dini bukan diukur dari trofi. Namun, dari bagaimana pemain tersebut bisa berkembang dan memperketat persaingan di level senior. “Timnas usia muda bukan masalah banyaknya piala dan gelar yang diraih. Ini pembinaan. Semoga mereka bisa lebih berkembang dan memberi kontribusi untuk level Timnas di atasnya,” ucap Fakhri usai Timnas U-16 disingkirkan Australia di Piala Asia. Kata Pemain dan Tanggapan Menpora Kesialan menimpa Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Timnas memperpanjang catatan minor dengan mendapat kegagalan keempat lolos dari fase grup ajang dua tahunan tersebut. Bek timnas, Hansamu Yama,  menyatakan jika hal ini disebabkan oleh takdir.  Performa Indonesia di edisi kali ini memang memprihatinkan. Timnas baru bisa meraih satu kemenangan kontra Timor Leste, itu pun dengan cara jatuh bangun. Dua laga lainnya berakhir dengan kekalahan.  Nasib sial kemudian benar-benar ditanggung Indonesia setelah hasil imbang Filipina dan Thailand. Kedua tim ini meraih total tujuh poin dan Indonesia otomatis tersingkir dari perburuan tiket semifinal.  Atas hasil tersebut, Indonesia resmi memperpanjang catatan minor dengan empat kali gagal melaju ke semifinal Piala AFF. Sebelumnya, mereka gagal melaju ke semifinal di edisi 2007, 2012 dan 2014. “Ya, kalau hasil tahun lalu di 2016 memang rezeki kami tampil di final. Tapi, tahun ini bukan rezeki kami. Semoga edisi selanjutnya rezeki kami juara,” kata Hansamu. “Saya mengerti bagaimana perasaan suporter. Tapi, ya kami tetap meminta support saja untuk pertandingan melawan Filipina nanti,” lanjut dia.  Hasil di Piala AFF 2018 adalah kegagalan keempat Timnas Indonesia lolos ke semifinal sepanjang sejarah digelarnya ajang tersebut. Hasil minor ini membuat Menpora, Imam Nahrawi, angkat bicara.  Pasca kegagalan Timnas Indonesia lolos ke semifinal, Imam dengan singkat menyebut sedang menunggu respons dari PSSI. Satu nama yang menurutnya paling bertanggung jawab yaitu Ketum PSSI, Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi.  “Tanya Ketua Umum PSSI (Edy Rahmayadi) saja. Saya ingin tunggu bagaimana responsnya setelah ini,” kata Imam.

Lanjutkan membaca “PSSI Membela Diri”